“Selamat Idul Fitri” akan menghiasi banyak media dalam beberapa hari ke depan. Saya sarankan Anda tidak menuliskan kalimat seperti itu.
Memang, tak akan bisa dicegah, kalimat semacam itu akan “bergentayangan” dalam berbagai wujud selama beberapa hari ke depan. Kalimat itu adalah ungkapan rasa syukur umat Islam selepas sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadan.
Lantas, mengapa saya tidak menyarankan Anda menulis “Selamat Idul Fitri”?
Asal Kata Idul Fitri
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata ini diserap dari bahasa Arab.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa istilah ini berasal dari kata ‘id atau ‘ada dan al-fitr atau fatara. ‘id bermakna 'perayaan', sedangkan ‘ada berarti 'kembali' atau 'mengunjungi'.
Sementara itu, makna al-fitr adalah 'buka puasa', sedangkan arti fatara adalah 'menciptakan', 'meragi', atau 'membatalkan puasa'.
Silakan baca ulasan mengenai takjil yang pernah diperlakukan secara tidak adil.
Menurut KBBI, makna kata Idulfitri adalah hari
raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan
ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Mengapa Banyak Orang Menulis "Idul Fitri"?
Menilik kabar-kabar yang disampaikan
beberapa media, sekilas terlihat penulisan “Idul Fitri” lebih mendominasi
ketimbang “Idulfitri”. Google Trends Indonesia pun “menyokong” dengan data.
Grafik frekuensi pencarian kata "Idul Fitri" dan "Idulfitri" di Google Trends Indonesia selama 5 tahun terakhir. Sumber data: trends.google.co.id.
Dalam tiga bulan terakhir, pencarian kata kunci "Idul Fitri" jauh lebih banyak dibandingkan "Idulfitri". Apalagi ketika memasuki bulan Maret 2025 ini, frekuensi pencarian "Idul Fitri" melonjak tajam, sedangkan pencarian "Idulfitri" naik sedikit saja.
Data selama lima tahun juga mengindikasikan
hal serupa. Setiap menjelang hari raya umat Islam itu, pencarian kata "Idul
Fitri" selalu meningkat pesat, sedangkan kenaikan frekuensi pencarian kata "Idulfitri" jauh di bawah "Idul Fitri".
Ada beberapa hal yang menjadi penyebab
banyak orang menulis kata "Idul Fitri".
1. Menerjemahkan kata per kata
Alasan ini sangat masuk akal mengingat
Idulfitri berasal dari dua kata seperti yang telah dipaparkan di atas. Karena
berasal dari dua kata, maka banyak orang menerjemahkannya begitu saja kata per kata
menjadi Idul Fitri.
2. Pengaruh media massa dan media sosial
Banyak pemberitaan di media massa dan
konten di media sosial yang memuat ucapan “Selamat Idul Fitri” dengan pelbagai
variasinya. Ucapan-ucapan semacam itu bakal sangat populer sejak beberapa hari
menjelang berakhirnya Ramadan hingga berakhirnya bulan Syawal.
Nah, banyak orang mengutip atau mengikuti
bentuk penulisan yang tersebar di berbagai media itu.
Bagaimana Penulisan Idul Fitri yang Benar?
Ada berbagai pandangan mengenai hal ini. Kondisi itu menimbulkan perbedaan mengenai cara penulisan yang benar, apakah “Idul Fitri” atau “Idulfitri”.
Menurut Dewi Puspita, seorang Widyabasa
Ahli Madya, asal istilah yang kita bahas ini adalah Eid Al Fitr. Kata ini
diserap ke dalam bahasa Indonesia dan ditulis menjadi Idulfitri.
Dalam video singkat yang ditayangkan akun
Instagram Badan Bahasa, ia menyatakan bahwa dalam bahasa Indonesia, kata
Idulfitri bukan merupakan kata majemuk. Masing-masing bagian dari kata itu,
idul dan fitri, tidak memiliki makna bila berdiri sendiri.
Ivan Lanin berpendapat serupa. Menurut pencinta bahasa Indonesia itu, pada posisi awal (subjek), عيد menggunakan tanda harakat u (damah): idu l-fitri sehingga (u)l- seharusnya melekat pada فطر "fitri" sebagai penanda makrifah: al-fitri.
Jadi, seperti yang disampaikan oleh penulis buku Recehan Bahasa itu dalam akun Instagramnya, "Idul" menjadi unsur terikat yang harus bergabung dengan kata yang mengikutinya.
Setali tiga uang dengan keduanya, KBBI pun mengikuti “ketentuan” ini dengan mencantumkan kata “Idulfitri” sebagai sebuah lema dalam salah satu lamannya.
Silakan baca juga artikel yang membahas kata dahaga yang bermakna tidak biasa.
Namun, tidak semua pihak “patuh” pada
“aturan” ini. Salah satu media yang “mbalelo” adalah Tempo. Media besar
itu tetap setia dengan kata “Idul Fitri”.
Kompas juga terlihat konsisten menulis “Idul
Fitri” dalam pemberitaan mereka. Media-media itu menggunakan gaya selingkung
yang bisa saja berbeda dengan aturan baku dalam penulisan kata.
Melalui akun Kompas Muda, Harian Kompas
menjelaskan bahwa mereka tetap menggunakan kata “Idul Fitri” dalam
tulisan-tulisan yang mereka terbitkan. Salah satu tujuannya adalah untuk
mendekatkan media mereka dengan para pembacanya.
Selain dalih selingkung, ada juga yang beralasan
istilah “Idul Fitri” sudah dikenal luas oleh masyarakat. Jadi, mereka
melanjutkan saja penggunaan kosakata yang telah dipakai oleh banyak anggota
masyarakat.
Nah, bagaimana dengan Anda? Saat merayakan
hari besar itu nanti, apakah Anda akan menulis “Idulfitri” atau “Idul Fitri”?
Post a Comment
Post a Comment